//
you're reading...
Analisis, Penanggulangan Bencana

Media Komunitas untuk Pengurangan Risiko Bencana di Jaringan Informasi Lingkar Merapi (JALIN MERAPI)

RINGKASAN – Jaringan Informasi Lingkar Merapi (JALIN Merapi) adalah inisiatif yang muncul dari warga pegiat media komunitas di lingkar Merapi. Mereka percaya bahwa informasi merupakan kekuatan yang harus mampu dimiliki dan dikelola oleh komunitas untuk dapat lebih bersiap menghadapi ancaman bencana di Merapi. Erupsi Gunungapi Merapi tahun 2006 awal terbentuknya JALIN Merapi, yang kemudian semakin terbukti kebermanfaatannya pada tahun-tahun berikutnya. Jalin Merapi pasca-2006 banyak digunakan untuk mendukung kegiatan pengelolaan lingkungan hidup warga lingkar Merapi. Pada erupsi 2010, Jalin Merapi semakin dikembangkan dengan penerapan konvergensi teknologi informasi dan penggunaan media baru. Tulisan ini disusun dari himpunan catatan pengalaman dalam mengelola JALIN Merapi sejak tahun 2006.

Tulisan ini disampaikan dalam Seminar Pengelolaan Bencana secara Terpadu dan Berkelanjutan di UC UGM Yogyakarta pada hari Senin, 20 Februari 2012. Seminar ini diselenggarakan dalam rangka program SIAP TEPAT kerjasama antara LPPM UGM dan Ditjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum Republik Indonesia.

Penulis:

  1. Sukiman Mochtar Pratomo – Radio Komunitas Lintas Merapi FM, Sidorejo, Kemalang, Klaten, lintasmerapi_fm[at]yahoo.co.id
  2. Elanto Wijoyono – COMBINE Resource Institution, Yogyakarta, joyo[at]combine.or.id

 

I. LATAR BELAKANG

I. 1. Ketika Media Membaca Merapi

Ingatan publik belum sepenuhnya lepas dari beberapa peristiwa bencana yang baru lalu, ketika Gunungapi Merapi dinaikkan statusnya menjadi AWAS pada 13 Mei 2006 pagi. Pada penghujung akhir 2004, gempabumi dan tsunami menerjang tiba-tiba di kawasan Nanggroe Aceh Darussalam dan sebagian Sumatera Utara. Lalu, Maret 2005, sebagian Nias luluh lantak akibat guncangan gempabumi.

Pada dua kejadian sebelumnya itu, media massa baru bisa mengabarkan secara utuh setelah semua terjadi; beberapa hari kemudian. Akses jalan yang sulit, bahkan beberapa wilayah letaknya terpencil di seberang daratan Sumatera, menjadi salah satu penyebab utama. Infrastruktur penyedia energi listrik dan infrastruktur komunikasi tak luput dari kerusakan, sehingga mempersulit akses pengiriman informasi, baik dari dalam wilayah bencana ke luar, maupun sebaliknya.

Ketika erupsi mulai terjadi di bulan Mei 2006, publik mendapatkan karakter ancaman bencana yang berbeda. Kali ini, dengan karakter kejadian yang cenderung bisa diperkirakan, Merapi muncul sebagai selebrita. Sejak status salah satu gunungapi teraktif di dunia itu naik menjadi SIAGA pada tanggal 12 April 2006, kehebohan terjadi. Penyebabnya, Merapi sejak saat itu cukup intensif diberitakan oleh media massa, baik cetak maupun elektronik. Dramatisasi muncul dikarenakan gunungapi muda yang termasuk dalam tipe stratovolcano ini berdiri tak jauh dari sejumlah kota penting di pedalaman Pulau Jawa bagian tengah, seperti Yogyakarta, Magelang, dan Solo. Tubuh gunung yang terbagi di empat wilayah administrasi kabupaten, yakni Sleman di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), serta Klaten, Boyolali, dan Magelang di Provinsi Jawa Tengah, menjadikan situasi lebih kompleks, terutama dalam urusan koordinasi.

Selama dua bulan puncak pemberitaan Merapi, April – Mei 2006, porsi pemberitaan Merapi lebih banyak mengulas tentang kondisi Gunungapi Merapi. Padahal, di seputar Merapi saat itu yang masuk kawasan rawan bencana primer dan sekunder meliputi 9 kecamatan, 42 desa, dan 118 dusun. Namun, media massa lebih tertarik untuk melaporkan dari waktu ke waktu kejadian vulkanologis di lapangan sebagai warna utama pemberitaan. Dinamika yang terjadi di masyarakat yang hidup di seputar Merapi mendapatkan porsi liputan yang jauh lebih kecil, muncul sebagai sisipan di antara berita-berita vukanologis.

Pemberitaan di sisi sosial baru santer ketika ada sosok selebritas yang secara politis cukup menarik dan penting untuk diulas. Kunjungan presiden yang bermalam di tenda pengungsian, tarik ulur sikap antara Juru Kunci Merapi (saat itu) Mbah Maridjan dengan Sri Sultan Hamengku Buwono X yang menjabat sebagai Gubernur DIY, serta penyaluran bantuan yang datang dari berbagai pihak untuk para pengungsi adalah ragam liputan yang muncul. Sempat teralih meliput dampak gempabumi yang menguncang DIY dan Jawa Tengah pada 27 Mei 2006, media massa baru kembali melihat Merapi ketika jatuh dua korban jiwa akibat luncuran awan panas pada tanggal 15 Juli 2006, justru ketika status Gunungapi Merapi baru saja diturunkan menjadi SIAGA.

I. 2. Informasi Merapi untuk Siapa?

Sangat jauh berbeda dengan kejadian erupsi Merapi pada tahun 1994 yang menewaskan 66 orang di Turgo, Sleman. Pada tahun 2006, media massa sudah rajin memberitakan sejak erupsi belum terjadi. Tentu saja hal itu dipengaruhi oleh perkembangan teknologi yang semakin maju dan lengkap saat ini. Dalam potret ini, media massa selalu menempatkan masyarakat Merapi sebagai objek pemberitaan. Dampaknya pun meluas ke kebijakan yang diambil oleh pengambil keputusan di tingkat daerah.

Pemerintah Kabupaten Klaten misalnya. Mereka berulangkali memerintahkan warga di lereng Merapi yang masuk ke wilayah Kecamatan Kemalang, Klaten untuk mengungsi. Tak habis pikir warga untuk mencoba memahami perintah tersebut karena menurut warga, kondisi Merapi masih belum mengancam. Akhirnya, dalam dua minggu terakhir April 2006, terjadi evakuasi paksa menurut pengakuan warga. Warga terpaksa meninggalkan rumah dan lahan pertanian yang siap panen selama lebih dari dua minggu, sehingga gagal panen terjadi.

Warga Merapi seolah tak punya pilihan. Salah satu sebabnya, mereka hidup di luar gencarnya arus informasi tentang Merapi yang bertebaran di banyak media. Warga yang diberitakan belum tentu dapat mengakses informasi yang diberitakan, yang sangat mungkin penting bagi mereka. Berbagai informasi dan berita yang tersebarkan atau tersiarkan justru lebih banyak dikonsumsi oleh orang-orang yang berada jauh dari Gunungapi Merapi. Warga yang justru menanggung risiko langsung terhadap ancaman Merapi dan kebijakan pemerintah justru lebih tidak tahu.

Seberapa jauh peran media yang memberitakan kondisi warga yang terancam bencana untuk warga itu sendiri menjadi pertanyaan. Apakah media bisa berperan untuk mengisi celah bahwa warga yang selama ini hanya jadi objek berita pun sebenarnya memerlukan informasi. Mereka juga perlu media untuk menyuarakan pendapatnya.

Warga Desa Sidorejo di Kecamatan Kemalang, Klaten, Jawa Tengah sebagai contoh. Mereka sebagian besar bermatapencaharian sebagai petani dan penambang pasir. Mereka juga menonton TV dan mendengarkan radio. Namun, tidak banyak informasi yang mereka butuhkan muncul di TV dan radio, yakni informasi yang terkait dengan mata pencaharian dan lingkungan tempat mereka hidup di Merapi. Bagi warga di desa-desa lingkar Merapi, pemberitaan media massa tentang Merapi sering tidak berimbang. Media massa terlalu banyak mengambil narasumber dari aparat pemerintah dan lebih banyak fokus di daerah yang lebih mudah dijangkau, seperti Sleman di DIY.

Selain keinginan untuk mengakses informasi, warga Merapi juga ingin memiliki media yang bisa mewadahi aspirasi mereka. Widodo, warga Desa Samiran di Selo, Boyolali menegaskan pula bahwa media itu harus mampu menampung arus komunikasi yang menerus, tak hanya ketika Merapi Awas, tetapi juga saat Merapi aktif normal. Pada saat tenang, media ini dapat digunakan untuk mendukung proses tukar informasi yang bersifat memberdayakan masyarakat, misalnya dengan pemberitaan komoditi lokal hingga masalah kebijakan di tingkat lokal. Dengan adanya informasi seperti itu, masyarakat akan mampu berdaya, sehingga akan lebih kuat dan siap ketika dihadapkan pada masalah, seperti ancaman erupsi Merapi.

II. GAGASAN DAN DINAMIKA JALIN MERAPI

II. 1. Suara-suara dari Kaki Gunung

Pada era tahun 1990-an, sangat tidak mungkin bagi masyarakat Merapi untuk mengabarkan apa yang diketahuinya kepada masyarakat luas dengan media komunikasi massa. Bahkan, untuk sekedar mengetahui informasi terkini tentang Merapi pun tidak mudah. Jalurnya sangat panjang dan birokratis. Belum ada satu pun radio komunitas saat itu di Merapi. Jika pun ada, pasti akan dicap sebagai radio gelap dan dilarang bersiaran. Radio siaran komunitas di Indonesia baru muncul aturan izinnya pada tahun 2005 melalui peraturan pemerintah sebagai turunan dari Undang-Undang No. 32 tahun 2002 tentang Penyiaran.

Selain radio siaran, kepemilikan radio komunikasi HT (handie-talkie) juga sangat dibatasi. Hanya aparat pemerintah dan militer yang boleh menggunakannya secara luas. Anggota masyarakat yang bisa menggunakan HT hanyalah anggota Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI). Mereka pun harus melalui seleksi terlebih dahulu. Begitu terbatasnya alat komunikasi waktu itu, saat terjadi bencana dampak awan panas pada 22 November 1994, Posko Merapi yang dipusatkan di Puskesmas Pakem, Sleman pun harus mendatangkan tambahan dukungan alat komunikasi radio dari ORARI Bantul.

Keinginan untuk berdaya sendiri ketika menyadari bahwa mereka hidup di wilayah rawan bencana, dan juga kaya potensi alam, menjadikan kebutuhan berkomunikasi semakin kuat. Sejak tahun 1995 pun dirintislah sebuah forum komunikasi antar masyarakat lereng Merapi bernama Paguyuban Sabuk Gunung (PASAG) Merapi. Usai gelegar reformasi 1998, berbagai kebijakan yang mengekang mulai longgar. Gagasan untuk membangun media untuk masyarakat lereng Merapi yang sudah lama dipendam pun mulai diwujudkan.

Pada awal tahun 2000-an, atas inisiasi dari para pegiat PASAG, sebuah radio siaran komunitas didirikan di kawasan Deles, Sidorejo, Kemalang, Klaten, Jawa Tengah. Radio yang dinamai Lintas Merapi ini sengaja dipersiapkan sebagai radio siaran darurat Merapi. Dikelola bersama-sama oleh kelompok pemuda desa, radio siaran komunitas ini dioperasikan dari rumah penulis, Sukiman, hingga saat ini. Uniknya, radio siaran komunitas ini tidak punya program berita. Isi siarannya hanya hiburan. Informasi dan berita disampaikan di sela-sela program hiburan. Hal ini dilakukan karena warga lereng Merapi yang hanya berprofesi sebagai petani dan penambang pasir cenderung tidak menyukai program berita. Padahal, berita-berita terkini, termasuk peringatan dini terhadap ancaman Gunungapi Merapi yang selalu dipantau oleh reporter Lintas Merapi FM, penting untuk diketahui setiap saat.

Sumber informasi Merapi yang dianggap akurat oleh Lintas Merapi adalah pengamatan langsung ke arah gunung. Hal ini dimungkinkan karena jarak mereka yang hanya sekitar 4,5 km dari puncak Merapi. Pihak siapapun yang memberi informasi dengan menyebutkan identitas diri lembaga atau pribadi yang jelas juga akan selalu diposisikan sebagai sumber informasi yang akurat. Selain itu, tentu saja, informasi teknis khusus tentang status gunungapi yang dilaporkan oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta menjadi acuan utama. Selama fase erupsi tahun 2006 lalu, setiap pukul 10.00 pagi, atas koordinasi Lintas Merapi FM, warga Desa Sidorejo selalu berkumpul bersama di beberapa titik pos ronda untuk mendengarkan laporan status terkini Gunungapi Merapi yang disiarkan oleh BPPTK melalui HT di frekuenasi 14.777 MHz. Dari laporan itu, diperbandingkan dengan pengamatan langsung ke tubuh gunung, mereka bisa mengukur sendiri kapan saat yang tepat untuk mengungsi.

Walaupun daya pancar siaran dibatasi maksimal 50 Watt, jangkauan siaran Lintas Merapi FM cukup jauh. Posisinya yang tinggi, sekitar 1188 meter dari permukaan laut, menjadikan siarannya dapat didengarkan dari wilayah Klaten, Prambanan, Sleman tenggara, Kota Yogyakarta timur laut, Sukoharjo, Karanganyar, Solo, hingga Sragen. Namun, justru ada beberapa wilayah yang sebenarnya lebih dekat jaraknya dengan Lintas Merapi, tetapi tak bisa mendengarkan siaran radio itu, seperti di wilayah Cangkringan utara di Sleman dan Boyolali. Menurut Koko, warga Kepuharjo, Cangkringan dan Widodo, warga Musuk, Boyolali, topografi yang bergunung-gunung di antara wilayah mereka menghalangi siaran radio Lintas Merapi. Hal ini cukup mengecewakan karena, menurut mereka, informasi mengenai Merapi justru lebih banyak didengarkan oleh warga yang tidak tinggal di lereng Merapi, tetapi warga yang tinggal jauh dari Merapi.

Menanggapi keluhan itu, pengelola Lintas Merapi FM bekerjasama dengan lembaga warga yang menaunginya, PASAG Merapi. Beberapa program siaran radio Lintas Merapi yang penting dipancarluaskan ke wilayah yang tak terjangkau siaran dengan menggunakan HT. Cara itu diterapkan selama masa erupsi tahun 2006 lalu. Relay siaran radio Lintas Merapi tentang kondisi gunung dan upaya penanggulangan bencana terkini diteruskan melalui dua frekuensi, yakni 13.787 MHz untuk kawasan PASAG Barat (Magelang – Boyolali) dan 14.992 MHz untuk kawasan PASAG Timur (Sleman – Klaten) setiap hari pukul 19.00 malam.

Tak lama berselang dari berdirinya Lintas Merapi, di sisi utara lereng Merapi lahir Radio Siaran Komunitas Merapi Merbabu Community (MMC) FM. Radio ini bertempat di Selo, Boyolali. Namun, sayangnya, sejak tahun 2006 siaran radio ini harus terhenti karena terkalahkan oleh siaran di frekuensi yang sama oleh radio siaran swasta yang berbasis di Solo, Jawa Tengah yang menggunakan alokasi frekuensi radio siaran komunitas. Menghadapi kendala tersebut, pemuda Selo yang menggiatkan MMC FM tetap aktif bergiat. Beragam forum pertemuan diikuti dan informasi yang ada kemudian disebarluaskan ke penduduk yang lain dengan beragam cara, mulai dari komunikasi lisan, hingga membuat selebaran tempel sederhana. Selama erupsi tahun 2006 berlangsung, komunikasi melalui HT antar wilayah kembali digiatkan. Informasi mengenai kondisi terkini Merapi dari jaringan PASAG secara berkala disebarluaskan ke penduduk desa yang tak mampu mengakses informasi dari HT yang jumlahnya terbatas. Kawasan Selo selama beberapa puluh tahun terakhir tidak pernah terancam erupsi Merapi secara langsung. Biasanya, luncuran lava dan material lainnya lebih banyak mengarah ke barat (Magelang) dan selatan (Sleman). Dampak tersering yang melanda Selo adalah abu vulkanik. Jadi, walaupun tingkat kewaspadaan tidak setinggi di kawasan lereng barat dan selatan, pegiat MMC FM dan warga setempat tetap merasa perlu untuk memantau perkembangan mutakhir dari waktu ke waktu agar tidak lengah sama sekali.

Lebih ke sisi barat Merapi, di Desa Ketunggeng, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, terdapat radio siaran komunitas bernama K FM. Radio ini baru berdiri pada tahun 2005 dan menggunakan salah satu ruang di lantai dua gedung MTs Aswaja. Ketika erupsi 2006 terjadi, kebetulan radio komunitas ini sedang tidak bisa menguara karena mengalamai kerusakan alat. Namun, pegiatnya tak berputus asa. Dengan berbekal beberapa HT yang dimiliki, mereka turut membantu langkah-langkah sosialisasi penanggulangan bencana dan evakuasi ke warga sekitar di lereng barat Gunungapi Merapi. Jarak antara kawasan stusio K FM dengan puncak Merapi cukup jauh, sekitar 12 km, sehingga wilayah tersebut menjadi salah satu titik pengungsian. Dampaknya, cukup mudah bagi pegiat K FM untuk turut serta membantu menangani proses evakuasi di beberapa tempat pengungsian di Kecamatan Dukun.

Banyak pihak, termasuk lembaga pemerintah, organisasi non-pemerintah, dan akademisi, baru dapat mengakui bahwa radio sangat efektif untuk mengurangi risiko bencana usai kejadian erupsi Merapi tahun 2006. Belajar dari pengalaman tersebut, pemerintah daerah dapat lebih kooperatif dengan warga Merapi. Pegiat K FM di Magelang mampu membuat jaringan kerja dengan kelompok Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Magelang dan wakil organisasi Nahdatul Ulama (MU) Magelang yang memiliki Barisan Ansor Serbaguna (Banser) pada tahun 2008. Pegiat MMC FM di Selo, Boyolali juga membuka ruang interaksi yang lebih luas dengan pemerintah desa setempat. Mereka menjadi bagian penggerak dari program Analisis Kemiskinan Partisipatif (AKP) yang hasilnya dapat digunakan untuk melihat faktor kerentanan yang ada di masyarakat Samiran di Selo. Dalam ranah penanggulangan bencana, daya hidup dan taraf ekonomi warga adalah faktor yang perlu diperhatikan. Jika warga berada pada kondisi buruk/rendah taraf hidupnya berarti sangat potensial menjadi faktor kerentanan yang sangat berpengaruh pada proses penanggulangan bencana secara keseluruhan.

Wilayah kebijakan perlahan juga menjadi ruang interaksi kegiatan Lintas Merapi FM. Pada tahun 2007, Lintas Merapi FM terlibat aktif dalam penyusunan Rencana Aksi Daerah untuk Pengurangan Risiko Bencana Kabupaten Klaten. Secara langsung, Radio Komunitas Lintas Merapi disebutkan sebagai salah satu sumber daya dalam kegiatan penguatan kelembagaan penanggulangan bencana daerah bersama PASAG Merapi. Hal itu menjadi salah satu komitmen pegiat Lintas Merapi bahwa sebagai pusat kegiatan warga, mereka kemudian tidak melulu fokus pada kegiatan siaran. Lintas Merapi bahkan menawarkan stasiun radio komunitasnya dan gardu pandang yang dibangun swadaya untuk dimanfaatkan sebagai sarana penanggulangan bencana oleh para pihak.

II. 2. Dari Udara ke Dunia Maya

Ketiga radio komunitas di ataslah yang pada bulan April 2006 berinisiatif untuk membangun jaringan informasi dan komunikasi antar komunitas di Merapi. Inisiatif ini mendapatkan dukungan dari beberapa kelompok pada awal gagasan ini muncul, seperti Kompip, Forum Rakyat Boyolali (FORABI), Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Yogyakarta, Jaringan Radio Komunitas Yogyakarta, Jaringan Radio Komunitas Jawa Tengah, dan COMBINE Resource Institution (CRI). Pertemuan pembentukan Jaringan Informasi Lingkar Merapi (JALIN Merapi) ini diputuskan dalam sebuah pertemuan bersama di sekretariat CRI di Yogyakarta. CRI secara khusus mendukung pembangunan jaringan ini dengan penyediaan platform online untuk bertukar informasi, menghubungkan antar komunitas Merapi dan dengan publik di luar Merapi.

Tahun 2007, ketika situasi tenang, menjadi awal bagi ketiga radio komunitas untuk mulai memanfaatkan internet. Media berbasis internet telah disepakati sebagai alat untuk saling bertukar informasi. Radio siaran komunitas yang dipancarsiarkan tentu saja punya keterbatasan, sehingga tak mampu menjangkau seluruh lingkar Merapi. Media lain, HT, juga hanya bisa diakses oleh orang yang memiliki HT. Dengan adanya internet, pegiat media komunitas di lereng Merapi ini pun dapat mulai membangun wadah aspirasi, memberitakan Merapi dari perspektif lokal. Muncul harapan di awal bahwa untuk mendapatkan berita tentang Merapi, tak harus dari media massa, tetapi justru seharusnya berasal dari masyarakat lereng Merapi.

Sebuah situs informasi komunitas dengan tajuk Jalin Merapi (http://merapi.combine.or.id) pun menjadi wahana pemberitaan oleh ketiga radio komunitas itu. Situs ini aktif sejak mei 2006 dan seterusnya dimanfaatakn untuk berbagi informasi terkini tentang Merapi dari sudut pandang radio komunitas, sebagai bagian dari warga setempat. Akses internet yang hingga saat ini didapat dengan menggunakan modem selular juga sangat membantu para pengelola radio komunitas untuk mendapatkan informasi terkini. Informasi yang mereka anggap penting akan disiarkan melalui radio masing-masing. Ketika kendala teknis terjadi, sehingga tak bisa siaran, informasi dari internet dapat tetap disebarluaskan ke warga, misalnya dengan menyebarkannya dalam bentuk selebaran tercetak.

Awalnya, tidak mudah untuk mendorong para pegiat radio komunitas untuk menulis. Mereka semua terbiasa menyampaikan gagasan dengan bertutur. Namun, keinginan kuat untuk dapat berbagi menjadikan banyak tulisan yang dihasilkan sebagai bagian dari pembelajaran. Dalam lingkup JALIN Merapi, ada lima tema utama yang dikembangkan, meliputi tema ekonomi lokal, lingkungan hidup, budaya lokal, pariwisata, dan penanggulangan bencana. Selama tahun 2007 – 2008, minat setiap kelompok mulai muncul. Pegiat radio Lintas Merapi FM lebih sering menuliskan berita bertemakan lingkungan hidup dan penanggulangan bencana. Pegiat MMC FM lebih banyak menulis tentang ekonomi lokal dan budaya lokal. Sementara, K FM di Dukun, Magelang lebih banyak menulis informasi yang bertemakan budaya lokal.

II. 3. Pelajaran Berharga di 2010

Erupsi Merapi di bulan Oktober hingga November 2010 menjadi pengalaman kejadian terbesar siapapun yang berhadapan dengan Merapi saat ini. Hal itu bisa dinilai, antara lain, dari hitungan volume material yang dihasilkan dalam erupsi tersebut, mecapai 140 juta meter kubik. Hingga akhir April 2011, baru 25% material yang teralirkan melalui banjir lahar hujan.

Pengalaman baru juga dialami oleh para pegiat radio komunitas Lintas Merapi FM, MMC FM, dan K FM. Bersama seluruh warga, mereka pun juga turut mengungsi. Bahkan, radio komunitas K FM di Dukun yang berjarak 12 km dari puncak Merapi pun juga harus mengungsi ke daerah yang lebih aman ketika zona aman diperluas di luar radius 20 km dari puncak Merapi oleh BPPTK dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Hanya Lintas Merapi FM yang siap dengan situasi perpindahan lokasi ini, sehingga mereka mampu membuat stusio siaran radio darurat di tempat pengungsian di Klaten Utara. Sementara, MMC FM yang mengungsi ke kota Boyolali dan K FM yang mengungsi Muntilan tak bisa bersiaran.

Dalam situasi yang kompleks saat itu, komunikasi banyak dilakukan dengan media telepon, SMS, dan HT. Namun, komunikasi yang lebih interaktif dilakukan melalui layanan media jejaring sosial, seperti Facebook dan Twitter. Group diskusi di Facebook dibuat oleh pegiat K FM sebelum erupsi tanggal 26 Oktober 2010. Group diskusi ini digunakan untuk melakukan koordinasi di internal Jalin Merapi. Group diskusi dibuat tertutup, sehingga hanya orang yang mendapatkan izin dari administrator yang bisa bergabung dalam diskusi. Anggota group ini tak terbatas pegiat JALIN Merapi yang berasal dari tiga radio komunitas dan beberapa lembaga yang mendukungnya, tetapi kemudian meluas ke sejumlah lembaga dan individu baru yang bergabung ke dalam lingkaran diskusi JALIN Merapi saat itu. Bahkan, dikarenakan antusiasme publik untuk turut aktif berbagi informasi tentang situasi dampak erupsi Merapi di lapangan, group JALIN Merapi dibuat hingga 5 group. Facebook cukup mudah diakses oleh pegiat radio komunitas, warga, relawan, dan siapa saja yang bahkan sedang berada di lapangan, dengan memanfaatkan akses melalui HP.

Media lain yang sangat intensif digunakan selama erupsi 2010 (hingga kini) adalah Twitter. Twitter lebih banyak digunakan untuk menjembatani informasi ke publik di luar Merapi. Pengorganisasian informasi melalui Twitter dan sejumlah media online lainnya didukung penuh oleh tim CRI di Yogyakarta. Bahkan, dengan publikasi melalui Twitter, dalam waktu kurang dari 2 minggu, operasi JALIN Merapi saat itu dapat menggalang lebih dari 2000 relawan. Relawan itu dipersiapkan sebagai relawan informasi dan komunikasi yang disebarkan ke lapangan untuk membantu sebagai jembatan informasi. Data dan informasi yang diperoleh dari relawan dan publik diolah oleh tim administrator di CRI untuk dipublikasikan melalui internet. Twitter dengan akun @jalinmerapi dalam waktu kurang dari 2 minggu sejak dibuat pada 25 Oktober 2010 pun juga mendapatkan pengikut lebih dari 30.000 orang. Media ini akhirnya, menjadi salah satu rujukan utama informasi bagi publik yang ingin mengetahui perkembangan informasi terkini di Merapi. Bahkan, saat ini setelah lebih dari setahun erupsi 2010 berlalu, media-media online JALIN Merapi masih menjadi rujukan publik online ketika mencari informasi terkini tentang Merapi dan kehidupan di sekitarnya.

Pengalaman dan teman yang bertambah menjadi salah satu dampak dari erupsi 2010. Dua radio komunitas baru lahir dan kemudian bergabung dengan JALIN Merapi. Satu radio berada di Cangkringan, Sleman, yakni Gema Merapi FM. Satu lagi berada di Jumoyo, Salam, Magelang, bernama Lahara FM. Gema Merapi FM digiatkan oleh warga yang terdampak langsung oleh bencana Merapi 2010 yang saat ini tinggal di kompleks hunian sementara. Lahara FM digiatkan oleh warga yang desanya diterjang oleh ganasnya aliran banjir lahar hujan Merapi. Padahal, jarak desa mereka lebih dari 15 km dari puncak Merapi.

 

Peta sebaran Radio Komunitas anggota JALIN Merapi per 2011

Peta sebaran Radio Komunitas anggota JALIN Merapi per 2011

 

III. MERAJUT MASA DEPAN KEHIDUPAN MERAPI

III. 1. Pendidikan Lingkungan untuk Pengurangan Risiko Bencana

Pengalaman terakhir dan terbesar di erupsi 2010 memberikan pemahaman besar tentang dinamika Merapi. Masyarakat yang hidup di lereng Merapi pun kemudian harus melakukan adaptasi. Lintas Merapi F

M, MMC FM, K FM, Lahara FM, dan Gema Merapi FM melihat situasi saat ini menjadi titik penting untuk melakukan pendidikan lingkungan. Langkah ini penting untuk dilakukan sebagai upaya mengurangi risiko bencana di masa depan.

Bersama lembaga warga yang memayungi, PASAG Merapi, radio komunitas yang menggiatkan JALIN Merapi saat ini sedang menjadi bagian dari program wajib latih penanggulangan bencana. Program ini dilakukan bekerjasama dengan BPPTK. Lintas Merapi FM adalah salah satu radio komunitas yang diminta menjadi salah satu narasumber utama dalam proses-proses pelatihan yang dilakukan disejumlah desa dan kelurahan, tidak hanya di lereng Merapi, tetapi bahkan hingga kota, seperti di Yogyakarta. Pelatihan saat ini banyak difokuskan untuk membangun kapasitas kelompok warga dalam menghadapi ancaman banjir lahar hujan dari Merapi.

Pendidikan lingkungan juga semakin digiatkan dengan kelompok sasaran anak-anak. Radio komunitas K FM yang berlokasi di MTs Aswaja mulai menggandeng keterlibatan siswa sekolah dalam program-program radionya. Radio komunitas MMC FM yang mulai kembali bersiaran di awal tahun 2012 ini aktif mengajak beragam kelompok warga untuk melakukan diskusi onair di radio. Radio komunitas Lintas Merapi FM menguatkan kembali kegiatan bersama anak-anak Desa Sidorejo dalam Kelompok Anak Pecinta Lingkungan (KANCING). KANCING memiliki program rutin menanam pohon buah di hutan Merapi dan memberi makan satwa, seperti kera ekor panjang dengan buah-buahan. Studio Lintas Merapi FM yang berada di rumah penulis, Sukiman, juga menjadi pusat belajar bagi anak-anak desa. Mereka dapat berkumpul di sana untuk belajar komputer, belajar internet, dan membaca di perpustakaan mini. Dalam banyak kegiatan bersama warga itu, pesan-pesan terkait tema pengurangan risiko bencana menjadi salah satu pesan yang disampaikan.

III. 2. Penguatan Jaringan Kerja Komunitas Lintas Desa dan Para Pihak

Dalam erupsi 2010, mungkin hanya Lintas Merapi FM dan warga dari 2 RW yang mengikutinya, yang bisa merasakan nyaman di pengungsian. Saat itu, mereka tidak mengungsi ke tempat pengungsian yang disediakan oleh pemerintah. Namun, mereka mengungsi ke desa yang bersedia menampung warga untuk mengungsi, sehingga warga pengungsi dapat tinggal membaur di rumah-rumah warga desa setempat. Warga Deles bersama Lintas Merapi FM ini tinggal hampir sebulan di Desa Manjung di Klaten Utara. Dengan komunikasi yang baik, warga pengungsi dapat berbaur dengan warga Desa Manjung. Bahkan, ketika pengungsi akan kembali ke Deles di Sidorejo, warga Desa Manjung berat untuk melepas. Pengalaman ini berbeda jauh dengan sebagian besar pengungsi Merapi yang harus tinggal berdesakan di tempat pengungsian yang kadang juah dari kondisi manusiawi. Banyak pengungsi yang pada saat itu tak punya pilihan, sehingga mau tidak mau tinggal sementara di tempat seadanya yang dapat menampung.

Belajar dari pengalaman generasi sebelumnya, pengungsian untuk menyelamatkan diri dari ancaman erupsi Merapi dikelola secara mandiri. Sebelum tahun 1990-an, warga yang menyingkir sementara untuk menghindari ancaman erupsi biasanya akan menuju rumah kerabat di desa-desa terdekat yang aman. Hal itu pun dilakukan secara mandiri. Baru pada dekade 2000-an ini warga dikelola secara terkomando, mulai dari keputusan evakuasi hingga pengumpulan warga di satu tempat pengungsian. Dampaknya, sering terjadi tarik ulur evakuasi antara pemerintah dengan warga. Selain itu, kondisi tempat pengungsian sering tidak siap menampung jumah dan ragam pengungsi, sehingga banyak pengungsi yang kondisinya jauh memburuk saat berada di pengungsian.

Hal-hal seperti ini juga menjadi perhatian pegiat radio komunitas di JALIN Merapi. Saat ini, dengan beragam kegiatan bersama warga dan siaran radi yang mampu menjangkau wilayah lintas desa, diharapkan dapat membangun kesepamahan bersama yang meluas. Interaksi dan komunikasi ini dibangun dan dipelihara dengan berbagai program yang kadang tampak sekdear menghibur, tetapi pada sisi lain bertujuan untuk mempererat ikatan sosial antar warga, walaupun yang berbeda desa. Diharapkan, dri praktik-praktik komunikasi sosial seperti itu, ketika warga Merapi mendapatkan ancaman dari erupsi atau bahaya lain, kelompok warga lain yang selama ini telah akrab dan dekat dapat membuka diri untuk membantu.

Jalinan komunikasi juga terus dilakukan dengan para pihak, termasuk pemerintah dan forum lembaga swadaya masyarakat. JALIN Merapi sebagai sebuah prinsip akan selalu diusung oleh radio-radio komunitas anggotanya untuk membangun kesadaran bersama tentang pentingnya informasi dalam ranah pengurangan risiko bencana. Kesetaraan dan kemerataan akses informasi menjadi hal utama yang harus selalu dipastikan keberadaan dan keberlangsungannya.

Pustaka

Nasir, Akhmad, et.al.. (ed.). 2009. Mengudara Menjawab Ancaman; Geliat Radio Komunitas dalam Penanggulangan Bencana. Yogyakarta: COMBINE Resource Institution.

Wijoyono, Elanto. 2006. Bergeming Menantang Bencana. Jaringan Informasi Lingkar Merapi (Jalin Merapi). http://merapi.combine.or.id/baca/121/bergeming-menantang-bencana.html diakses pada tanggal 19 Februari 2012.

Wijoyono, Elanto. 2008. Mencari Posisi Radio Komunitas dalam Penanggulangan Bencana. Majalah KOMBINASI Edisi 24 April 2008. Yogyakarta: COMBINE Resource Institution. Halaman: 6 – 7.

Wijoyono, Elanto. 2008. Berhemat dengan Bak Semen; Ubah Ancaman jadi Peluang. Blog Tak Beranjak Mencari Celah ke Langit. http://elantowow.wordpress.com/2008/10/21/berhemat-dengan-bak-semen/ diakses pada tanggal 19 Februari 2012.

Wijoyono, Elanto. 2010. Anak-anak Penyelamat Satwa dari Kaki Merapi. Jaringan Informasi Lingkar Merapi (Jalin Merapi). http://merapi.combine.or.id/baca/11970/anak-anak-penyelamat-satwa-dari-kaki-merapi.html diakses pada tanggal 19 Februari 2012.

Wijoyono, Elanto. 2011. Potensi Ancaman Bencana di Yogyakarta dan Sekitarnya. Blog Tak Beranjak Mencari Celah ke Langit. http://elantowow.wordpress.com/2011/05/13/potensi-ancaman-bencana-di-yogyakarta-dan-sekitarnya/ diakses pada tanggal 19 Februari 2012.

Wijoyono, Elanto. 2011. Manajemen Informasi Jalin Merapi. Jaringan Informasi Lingkar Merapi (Jalin Merapi). http://merapi.combine.or.id/baca/13359/manajemen-informasi-jalin-merapi.html diakses pada tanggal 19 Februari 2012.

Sila unduh tulisan ini melalui tautan berikut ini: Media Komunitas untuk PRB di JALIN Merapi (SIAP TEPAT – 2012).pdf

Discussion

No comments yet.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *