//
you're reading...
Budaya & Kearifan Lokal

Sosok Mbah Marjo Utomo

Sebagai orang Jawa asli Mbah Marjo yang lahir dan dibesarkan di tanah Jawa Yogyakarta di Lereng Merapi tepatnya di Bukit Turgo, karakter dan falsafahnya Simbah Marjo yang adhi luhung(sarat makna) yang tercermin dalam lakuning Orep (perilaku hidup sehar-hari). Hal ini patut saya tiru sebagai upaya untuk melestarikan dan menjunjung tinggi (njunjung dhuwur) nilai-nilai luhur yang saat ini mulai terkikis oleh globalisasi. Beberapa hari ini saya sering ke lereng Merapi untuk mengunduh ‘Kaweruh’ tentang kearifan lokal yang berlangsung bertahun-tahun dengan keunikannya di seputar lereng Merapi. Saya bertemu dan tertarik dengan semua hal yang Mbah Marjo lakukan untuk masyarakatnya. Sosok orang tua seperti Mbah marjo adalah benar-benarmigunani dan menjadi teladan bagi keluarga maupun masyarakat sekitarnya. Oya, sedikit balik ke masa lalu, tahap Merapi Tua terjadi ketika Merapi mulai terbentuk namun belum berbentuk kerucut (60.000 – 8000 tahun lalu). Sisa-sisa tahap ini adalah Bukit Turgo dan Bukit Plawangan di bagian selatan, yang terbentuk dari lava basaltik, nah Beliau tinggal disini, di lereng Bukit Turgo, desa terakhir yang berjarak 5 km darpi puncak Merapi.

Sisa-sisa keperkasaanya masih terlihat jelas diwajahnya walaupun dibalut dengan kulit yang sudah keriput yang sebagian tubuhnya terkena awan panas Merapi.  Menghabiskan sisa hidup bersama dengan istri dan juga cucunya yang mengurus segala keperluan hidupnya.  Keseharianya Beliau berkebun dan mengurusi ternaknya saja karena faktor usia sehingga tidak banyak aktivitas yang dilakukan. Ungkapan Mbah Marjo ini sebagai wujud adanya sikap budaya luhur yang masih menjadi orientasi masyarakat Bukit Turgo tempo dahulu. Nasehat itu masih sangat relevan untuk diaktualisasikan kembali saat ini. Orang Jawa memiliki sikap hidup samadya (sedang-sedang, sewajarnya, secukupnya) saja, yang menggambarkan tidak adanya orientasi pada harta benda, atau ngoyak kadonyan (mengejar harta), secara berlebihan. Sikap luhur ini menyangkut peran sosial dari seseorang.

Salah satu epik yang di kisahkan oleh Mbah Marjo adalah bagaimana beliau mendapatkan mimpi di setiap kejadian tentang letusan merapi, mulai dari tahun 1994 hingga 2010 waktu lalu beliau selalu mendapatkan pesan sebelumnya letusan itu benar-benar terjadi. Beliau mengkisahkan bahwa sesosok makhluk menemuinya dengan pakaian “Beskap” khas Jawa dengan keris dan blangkon yang menempel pada tubuhnya berpesan “Eyang Sapu Jagad akan melakukan arak-arakan menuju ke pantai selatan”, kurang lebih begitu. Dari pesan itu, Beliau selalu memberikan peringatan kepada masyarakat disekitarnya, tetapi banyak yang tidak percaya akan prediksinya dari pesan mimpi yang diterimanya. Merapi pun punya cara tersendiri  “berkomunikasi” dengan Mbah Marjo sekitar sebelum terjadi erupsi. Jauh hari sebelum peradaban mengenal teknologi, masyarakat telah banyak belajar dari gejala-gejala alam. Saya beranggapan, dulu saat muda, bahwa Mbah Marjo adalah aktivis sosial kemasyarakatan di lereng merapi, adalah cermin lelaki senja yang tak mudah menyerah dan selalu bersyukur (“Nerimo”) apa adanya. Beliau juga aktivis Pasag Merapi di eranya, rumah beliau adalah saksi awal mula PASAG Merapi Berdiri di tahun 1994. Rumah beliau dijadikan sebagai tempat pertemuan berkali-kali untuk menggodog pengetahuan dan pemahaman soal Merapi yang di inisiasi oleh Perkumpulan KAPALA dan Pusat Studi Manajemen Bencana UPN Veteran Yogya. Beliau selalu mengajarkan pengetahuan dan pemahaman tentang gejolak Merapi kepada masyarakat agar dapat memahami tanda-tanda yang akan muncul dan mengenali lebih dekat karakter Merapi sehingga masyarakat itu sendiri akan dapat hidup berdampingan dengan bencana sekaligus berkah akibat dari “Ngeduke Bahan” (menurunkan material) Merapi.

Mbah Marjo saya nilai memiliki kelebihan yang tak dimiliki orang lain. Kelebihan itu ialah konsistennya pada dunia keilmuan falsafah yang melatar belakangi oleh Merapi yang luhur. Selain itu, sosok Mbah Marjo juga saya kenal sebagai orang yang sangat rendah hati, sederhana, dan berkepribadian luhur. Bagi saya, Mbah Marjo itu orang yang berdedikasi tinggi dan tidak pernah memperlihatkan keangkuhan dengan ilmunya yang segudang, seperti pepatah, “Sing penting tandang, ra kudu kondang” (yang penting itu berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang, tidak harus terkenal atau dikenal). Namun, beliau juga orang yang bersyukur dan tak pernah tergoda dengan berbagai gelimang keduniawian, orang yang santun, sederhana, dan rendah hati. Mbah Marjo adalah tokoh masyarakat yang disegani, beliau seringkali ditemui berbagai media nasional maupun internasional untuk menggali pengetahuannya soal kearifan lokal di Merapi yang memang unik tetapi mbah Marjo yang bersahaja tidak pernah sombong akan pemberitaannya mengenai beliau di media-media. Memang Mbah Marjo tidak seterkenal Mbah Marijan, tetapi daya dan upayanya dalam peran kebencanaan di Merapi sangatlah tidak bisa dianggap remeh.

Yang saya tangkap dari Mbah Marjo, beliau mengajarkan ajaran yang luhur untuk membangun budi pekerti dan olah spiritual bagi kalangan yang mengerti akan Merapi, tetapi juga diajarkan pula petunjuk-petunjuk sederhana dalam kehidupan bermasyarakat yang harus dapat menolong sesama dan tidak serakah. Pesan Beliau, semua perbuatan itu yang baik maupun yang jahat, pasti akan berbalik berlipat kepada diri kita sendiri. Dan setiap kebaikan yang kita lakukan pada orang lain akan menjadi “pagar” yang mengelilingi diri kita sendiri. Sehingga kita tak bisa dicelakai orang lain, sebaliknya akan mendapat keselamatan, serta meraih ilmu kabegjan (keberuntungan). Beliau juga menuturkan bahwa sikap arif masyarakat terhadap alam, menjadikan alam sekitar gunung Merapi menjadi lestari dan terjaga keseimbangan ekologinya sehingga bisa berdampingan antara manusia dengan alam. Walaupun menggantungkan hidupnya pada Merapi, masyarakat tidak sampai memanfaatkannya secara berlebihan. Oleh karenanya, kearifan lokal memberikan manfaat bagi masyarakat. Tidak heran jika masyarakat Turgo selalu dan tetap menjaga kelestarian alam Merapi.

Teks dan Foto: Fathur (Nuno) Rahman 

Sumber: https://www.facebook.com/notes/nuno-rahman/sosok-mbah-marjo-utomo/10152385003920480

 

Discussion

No comments yet.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *